Selasa

20. Soal TITRASI Latih 1

 

20. Soal TITRASI  Latih 1


1. Larutan Standar

Larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya telah diketahui 

secara pasti dan akurat

Larutan ini berfungsi sebagai pembanding untuk mengukur konsentrasi zat lain.

  • Standar Primer: Dibuat dari zat murni yang stabil (contoh: asam oksalat).

  • Standar Sekunder: Konsentrasinya ditentukan melalui pembakuan 

  •                                   dengan standar primer (contoh: NaOH).

2. Larutan Analit

Analit adalah larutan yang akan dicari tahu kadar atau konsentrasinya

Dalam prosedur titrasi, analit biasanya ditempatkan di dalam labu Erlenmeyer 

3. Buret

Buret adalah alat laboratorium berupa tabung kaca panjang berskala yang 

dilengkapi dengan kran (stopcock) di bagian bawahnya.

  • Fungsi: Mengalirkan larutan standar secara tetes demi tetes ke dalam analit.

  • Ketelitian: Memungkinkan pembacaan volume yang sangat presisi 

  •                   hingga dua angka di belakang koma (misalnya 25,00 mL).

4. Erlenmeyer (Labu Erlenmeyer)

Labu ini berbentuk kerucut dengan leher sempit dan dasar yang rata.

Fungsi: Tempat menampung larutan analit selama proses titrasi.

Keunggulan: Bentuknya yang mengerucut memungkinkan larutan dikocok 

atau digoyang secara memutar (homogenisasi) tanpa takut tumpah, 

yang sangat penting saat mendekati titik akhir titrasi.

5. Indikator

Indikator kimia adalah zat (biasanya asam atau basa organik lemah) yang 

ditambahkan ke dalam analit untuk menunjukkan kapan titrasi harus dihentikan. 

Indikator akan berubah warna pada rentang pH tertentu 

sebagai respons terhadap perubahan kondisi kimia dalam larutan.

Contoh: Fenolftalein (PP) yang berubah dari bening menjadi merah muda 

saat larutan mencapai suasana basa.

6. Titik Ekuivalen

Titik ekuivalen adalah kondisi teoritis di mana jumlah mol larutan standar 

secara stoikiometri tepat habis bereaksi dengan jumlah mol larutan analit.

Pada titik ini, reaksi kimia dianggap selesai secara sempurna.

Titik ini tidak bisa dilihat secara langsung dengan mata telanjang, 

melainkan dihitung berdasarkan rumus.

7. Titik Akhir Titrasi

Titik akhir titrasi adalah kondisi di mana indikator mengalami perubahan warna 

yang menetap, sehingga praktikan menghentikan aliran buret.

  • Idealnya, titik akhir titrasi harus sedekat mungkin dengan titik ekuivalen.

  • Selisih antara titik akhir dan titik ekuivalen disebut sebagai kesalahan titrasi.


Perbedaan Utama: Titik Ekuivalen vs Titik Akhir

Secara sederhana, Titik Ekuivalen adalah saat reaksi selesai di tingkat molekul 

(teori), sedangkan Titik Akhir Titrasi adalah saat kita berhenti meneteskan larutan 

karena melihat perubahan warna (praktik).

Dalam titrasi dikenal:

1. Larutan standar (larutan titer) : larutan yang telah diketahui konsentrasinya.

2. Larutan analit (larutan yang belum diketahui konsentrasinya

3. Buret : tempat larutan peniter (larutan standar)

4. Erlemeyer : tempat larutan analit (larutan yang belum diketahui konsentrasinya)

5. Indikator : zat akan mengalami perubahan warna pada pH tertentu.

6. Titik ekuivalen : pereaksi tepat habis semua,  saat tepat ekuivalen maka titrasi dihentikan.

7. Titik akhir titrasi (saat penghentian titrasi) tercapai saat mendekati titik ekuivalen


Zat yang akan ditentukan konsentrasi (kadar) disebut larutan analit 

dan biasanya diletakan di dalam Erlenmeyer, 

sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut larutan standar (titer) 

dan biasanya diletakkan di dalam “buret”. 



Link Ringkasan SMA 78 

 

https://drive.google.com/file/d/1jNZvrfmIHoJomMsLi4G8vQ4DQkXu3Q7s/view?usp=sharing



LINK RUMUS RUMUS DALAM TITRASI 

https://drive.google.com/file/d/1ksrgm18asJuIT5-0ZPh_yw15qbMmPko-/view?usp=sharing



grafik 1

 



grafik 2


grafik 3


grafik 4


Analisislah Grafik Titrasi Berikut
Grafik I

Grafik II

Grafik III




Kelompok 1 : Titrasi antara larutan CH3COOH dengan NaOH 0,2 M

Dengan urutan pengerjaan :                            

1.  Menghitung konsentrasi CH3COOH yang dititrasi dengan 
larutan standar (larutan NaOH 0,2 M) berdasar data hasil titrasi berikut:
titrasi dihentikan saat terjadi perubahan warna pada larutan indikator 
dan volume NaOH yang digunakan  

     

No

Volume CH3COOH X M

Volume NaOH 0,2 M

1

25 ml

20,4 ml

2

25 ml

21,2 ml

3

25 ml

18, 4 ml

(Jika Ka CH3COOH = 10-5)

                           

2.  Hitung nilai X (konsentrasi larutan CH3COOH)

3.  Menghitung pH larutan saat ekuivalen

4.  Melengkapi nilai [H+] dan pH dalam tabel dibawah ini








SOAL LATIHAN 2

 

1)    Untuk mengetahui % asam cuka dilakukan dengan titrasi 2 mL larutan asam cuka 

        dan memerlukan 35 mL larutan NaOH 0,1M.  massa jenis larutan 950 g/L.  

        (Mr CH3COOH = 60)

a)  Tentukan kemolaran asam cuka!

b)  Berapa % kadar asam cuka tersebut?

 

2)    Untuk mengetahui % asam cuka dipasaran dilakukan dengan titrasi sebanyak 10 mL 

        asam cuka diencerkan hingga 100 mL, kemudian diambil 25 mL larutan asam cuka encer 

         tersebut dan dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 M , 

        titrasi dilakukan 3 kali dengan data:

Percb

Volume cuka

Volume NaOH 0,1 M

1

25 mL

19 mL

2

25 mL

20 mL

3

25 mL

21 mL

 

Jika massa jenis larutan cuka 0,95 g/mL. (Mr CH3COOH = 60)

a) Tentukan kemolaran asam cuka (CH3COOH) dalam botol !

b) Berapa % kadar asam cuka tersebut

 

3)    Untuk mengetahui % asam cuka dipasaran dilakukan dengan titrasi, 

        mengambil 10 mL asam cuka kemudian diencerkan hingga 100 mL, 

        kemudian diambil 20 mL larutan asam cuka encer tersebut 

     dan dititrasi dengan larutan Ca(OH)2 0,1 M , titrasi dilakukan 3 kali 

     dengan data:

Percb

Volume cuka

Volume                                Ca(OH)2 0,1 M

1

20 mL

28 mL

2

20 mL

30 mL

3

20 mL

32 mL

 

Jika massa jenis larutan cuka 0,95 g/mL. (Mr CH3COOH = 60)

a)       Tentukan kemolaran asam cuka!

b)       Berapa % kadar asam cuka tersebut?

 

4) Untuk menentukan kadar KOH dalam suatu zat, maka ditimbang 10 gram zat tersebut 

   dan dilarutkan dalam air hingga 200 mL. kemudian diambil 10 mL 

  dan dititrasi dengan larutan H2SO4 0,1 M memerlukan rata-rata 25 mL, 

   maka kadar KOH dalam zat tersebut adalah : (Ar K=39 ; O=16 ; H=1)

 

5)  Untuk menentukan kadar Ca(OH)2  dalam suatu batuan, maka ditimbang  20  gram zat tersebut 

     dan dilarutkan dalam dalam air hingga 200 mL. kemudian diambil 20 mL 

     dan dititrasi dengan larutan H2SO4 0,1 M memerlukan rata-rata 25 mL, 

     maka kadar Ca(OH)2 dalam zat tersebut adalah : (Ar Ca=40 ; O=16 ; H=1)

 Link Pengumpulan Jawaban Analisis Grafik Titrasi dan Soal Latihan 2



RUMUS RUMUS PERHITUNGAN [H+] dan [OH-

DALAM TITRASI ASAM BASA DENGAN CARA VALENSI

 



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar